Menstruasi
adalah pendarahan yang disertai deskuamasi Endometrium. Siklus menstruasi itu
sendiri adalah proses yang terjadi antara hari pertama menstruasi hingga datangnya
menstruasi berikutnya. Terdiri atas beberapa fase yang biasanya terjadi selama
21-45 hari tiap siklus (dikatakan siklus normal bila terjadi 28 hari). Proses
yang terjadi pada tiap siklus menstruasi terdiri atas perubahan pada
Endometrium dan Ovarium yang saling berkaitan.
Fase
pada siklus menstruasi terdiri atas 3 Fase Utama yaitu:
¥ Fase Menstruasi
¥ Fase Proliferatif/ Fase Folikuler
¥ Fase Sekretorik/ Fase Luteal
Terdapat
3 sistem hormon yang berpengaruh sepanjang daur seksual bulanan wanita:
¥ hormon yang dikeluarkan
hipotalamus, yaitu GnRH (hormon pelepas gonadotropin) yang terdiri dari FSHRH
(follicle-stimulating hormone-releasing hormine) dan LHRH (luteinizing
hormone-releasing hormone)
¥ hormon hipofisis anterior, yaitu
FSH (hormon perangsang folikel) dan LH (hormon lutein). Kedua hormon ini
disekresi sebagai respon terhadap pelepasan hormon GnRH dari hipotalamus
o FSH :
merangsang
pertumbuhan folikel dalam ovarium
o LH : merangsang ovulasi dari oosit yang
matang
¥ hormon-hormon ovarium, yaitu
estrogen dan progesteron, yang disekresikan oleh ovarium sebagai respon
terhadap sekresi FSH dan LH

Pada
setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis merangsang
perkembangan folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya
hanya 1 folikel yang terangsang namun dapat perkembangan dapat menjadi lebih
dari 1, dan folikel tersebut berkembang menjadi folikel de graaf yang membuat
estrogen. Estrogen ini menekan produksi FSH, sehingga hipofisis mengeluarkan
hormon yang kedua yaitu LH. Produksi hormon LH maupun FSH berada di bawah
pengaruh releasing hormones yang disalurkan hipotalamus ke hipofisis.
Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap
hipotalamus. Produksi hormon gonadotropin (FSH dan LH) yang baik akan menyebabkan
pematangan dari folikel de graaf yang mengandung estrogen. Estrogen
mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh LH, folikel de
graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah ovulasi terjadi,
dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus luteum, di bawah pengaruh
hormon LH dan LTH (luteotrophic hormones, suatu hormon gonadotropik). Korpus
luteum menghasilkan progesteron yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelenjar
endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka korpus luteum berdegenerasi dan
mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron. Penurunan kadar hormon
ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan pelepasan dari endometrium. Proses
ini disebut menstruasi. Apabila terdapat pembuahan dalam masa ovulasi, maka
korpus luteum tersebut dipertahankan.
SIKLUS
MENSTRUASI

¥ Fase
Menstruasi. Ditandai
dengan perdarahan Endometrium yang disertai deskuamasi/peluruhan dari lapisan
Fungsional Endometrium. Biasanya fase ini terjadi 1-5 hari pada siklus
menstruasi.
Deskuamasi endometrium terjadi karena menurunnya kadar Estrogen dan
Progesteron, dimana hormon-hormon ini berfungsi dalam proliferasi dan
mempertahankan lapisan Endometrium. Penurunan kadar hormon-hormon ini
disebabakan karena Korpus Luteum yang berfungsi mensekresikan kedua hormone ini
tereduksi menjadi korpus albikans dan kehilangan fungsi sekretorik hormonnya.
Penurunan kadar estrogen dan progesterone ini mencetuskan umpan balik pada
hipotalamus untuk mensekresikan GnRH yang akan merangsang hipofisis anterior untuk
mensekresikan FSH dan LH.
¥ Fase
Proliferatif/ Fase Folikuler. Fase Proliferatif pada Endometrium homolog dengan Fase Folikuler
yang terjadi pada Ovarium. Kedua fase ini berlangsung dari hari terakhir
menstruasi hingga terjadinya Ovulasi. Biasanya terjadi 5-14 hari dari siklus
haid.
Fase ini ditandai perubahan pada Endometrium dimana lapisan fungsional
endometrium mulai mengalami proliferasi (berkembang dari sel basal Endometrium)
dan dinding endometrium terlihat menebal 2-3 cm. perubahan pada Endometrium ini
dipengaruhi perubahan yang juga terjadi pada Ovarium.
Pada ovarium, fase folikuler ditandai dengan proliferasi dan
pematangan Folikel. Pematangan folikel ini sebenarnya dimulai sejak masa
Menstruasi dimana pada fase menstruasi kadar FSH dan LH mulai meningkat (terutama
FSH). FSH bekerja pada folikel ovarium dan menginduksi terjadinya proliferasi
dan pematangan ovarium. Perkembangan folikel yang terjadi pada masa menstruasi
dimana Sel Benih Primodial berproliferasi menjadi Folikel Primer dan dilanjutnya
pada fase Folikuler dimana sel Folikel Primer berkembang menjadi Sel Folikel Sekunder
lalu sel Folikel de Graaf (folikel matang).
Perkembangan folikel dari folikel primordial → folikel De Graaf:
Ø Folikel Primodial adalah Oosit
primer yang dikelilingi sel-sel folikuler squamous simpleks. Sejak masa
pubertas, dibawah pengaruh FSH, folikel ini akan mulai proses pematangannya.
Ø Folikel Primer adalah perkembangan
pertama dari folikel primodial. Pada tahap awal, sel-sel folikuler mulai
berdifereniasi menjadi lebih kuboid membentu Folikel Primer Unilayers dan dilanjutkan
dengan perbanyakan sel-sel folikuler ini disebut Folikel Primer Multilayers.
Sel-sel folikuler yang melapisi oosit primer ini disebut sel granulosum. Bagian
luar sel-sel granulosum ini berdiferensiasi membentuk lapisan teka.
Ø Folikel Sekunder ditandai dengan
terbentuknya lakuna-lakuna kecil pada sel-sel sel-sel granulosum yang berisi
cairan yang disebut Liquor Folikuli yang merupakan hasil sekresi sel-sel granulosum.
Ø Folikel de Graaf ditandai dengan
semakin meluasnya ruang antrum dan mendesak oosit primer kesalah satu kutub
folikel. Sel-sel granulosum yang ikut terdesak kekutub oosit disebut sel-sel
kumulus ooforus. Pada folikel matang ini, oosit primer melanjutkan tahap meiosis
I dan meiosis II (hingga tahap metafase).
Bagian teka pada folikel yang mengalami pematangan bersifat sekretorik
dimana sel-sel ini berfungsi menghasilkan Hormon Estrogen. Karena itu pada masa
folikuler ini terjadi peningkatan kadar estrogen yang menginduksi proliferasi
endometrium.
Pada akhir masa fase Folikuler, dapat terjadi ovulasi. Ovulasi adalah
pengeluaran ovum (oosit primer) dari dalam folikel ovarium menuju Oviduct (Tuba
Fallopii). Ovulasi diinduksi pelonjakan kadar LH yang cukup tinggi untuk
menginduksi ovulasi. Pelonjakan kadar LH yang drastic ini diduga karena
meningkatnya kadar estrogen yang cukup tinggi sementara kadar progesterone
tetap rendah memberikan umpan positif dalam sekresi GnRH yang memacu LH. LH
bekerja dengan menginduksi sekresi Hormon Steroid Folikuler (diantaranya
progesteron) yang kemudian bekerja pada folikel dengan dua mekanisme utama
dalam menginduksi ovulasi, yaitu:
ü Sekresi Enzim Proteolitik yang
menyebabkan melemahnya dinding Folikel.
ü Sekresi prostaglandine kedalam
folikel menyebabkan plasma dalam pembuluh darah masuk
ü sebagai transudat kedalam folikel
menyebabkan pembengkakan pada folikel.
Melemahnya dinding folikel ditambah folikel mengalami swelling
menyebabkan dnding folikel rupture dan oosit didalamnya keluar.

¥ Fase
Sekretorik/ Fase Luteal. Fase
sekretorik pada endometrium homolog dengan Fase Lueal ovarium. Fase ini
berlangsung dari sejak terjadinya ovulasi hingga sesaat sebelum menstruasi
terjadi. Kira-kira fase ini berlangsung 14-28 hari dari siklus menstruasi.
Endometrium pada fase sekretorik
mengalami proliferasi dengan kecepatan yang semakin meningkat menyebabkan
bertambahnya tebal endometrium. Seperti dijelaskan sebelumnya, penebalan
dinding endometrium dipengaruhi oleh kadar estrogen, ditambah lagi pengaruh
kadar progesterone dimana pada fase sekretorik kadar kedua hormone ini
meningkat pesat. Penebalan dinding endometrium ini merupakan persiapan untuk
nidasi bila nantinya terjadi fertilisasi (tidak terjadi pada siklus menstruasi
penuh). Selain penebalan dinding endometrium, perubahan lainnya yang terjadi
adalah meningkatnya sekresi dari kelenjar uterus menyebabkan dinding-dinding
endometrium tertutup banyak secret (juga berperan dalam nidasi).
Pada Ovarium, setelah ovulasi
terjadi, folikel yang ditinggalkan oleh oosit akan segera berubah adi korpus
rubrus karena perdarahan dari vari pembuluh yang menyuplai nutrisi folikel.
Karena pengarung LTH dan LH korpus rubrum segera berdiferensiasi mejadi korpus
luteum yang bersifat sekretorik. Disebut korpus luteum karena mengandung banyak
lutein. Korpus luteum ini berfungsi mensekresikan estrogen dan progesterone
yang nantinya akan merangsang proliferasi endometrium. Meningkatnya kadar
progesteron dan estrogen memberi umpan balik pada thalamus sehingga menurunkan
sekresi FSH dan LH yang menyebabkan terhentinya proliferasi dan pematangan dari
folikel. Bila tidak terjadi fertilisasi, korpus luteum akan terdegradasi
setelah kira-kira 9 hari pasca ovulasi dan menjadi korpus albikan yang memulai
terjadinya fase menstruasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar